Tampilkan postingan dengan label Masjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Oktober 2010

Dauroh Mabit Masjid Attauhid ARH UI Oktober


Kajian Ilmiyyah

DAUROH MASJID ATTAUHID ARIF RAHMAN HAKIM Salemba UI
Mabit, Jumat-Sabtu, 29-30 Oktober 2010

15.30 - 17.30 : Bedah Buku
"Hati Sebening Mata Air" karangan Amru Khalid

20.00 - 21.30
Kajian Menuju Kemuliaan Tawadhu
Oleh: Ust. Prof Dr. Ahmad Satori Ismail
Ketua Ikatan Da'i Indonesia

21.30 - 23.00
Bahaya Ujub dan Sombong
Oleh: Ust Farid Nu'man

03.00 - 06.00 (Mabit)
Qiyamul Lail & Kuliah Shubuh
Oleh: Ust Khairul Anwar, al hafizh

Kajian ini atas kerjasama:
- Toko Buku Bursa ARH
- Majalah Tarbawi
- DATA
- DKM AARH UI
- Percetakan Raster Salemba

GRATIS
Untuk Ikhwan dan Akhwat

Yuk sebarkan dan ikuti kajian ini...

Rabu, 22 September 2010

Kajian Ilmiyyah Dauroh Mabit Masjid Attauhid ARH UI


Bismillah...

“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)

“Keutamaan orang ‘alim atas orang ahli ibadah adalah seperti keutamaan diriku atas orang yang paling rendah dari sahabatku.” (HR At Tirmidzi).
Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.” (Ibn Rajab, Latho-if Al Ma’arif, hal. 394.)

Kajian Ilimiyyah Masjid Attauhid ARH UI kembali hadir!
MATERI:

Bedah Buku
"Menyibak Rahasia Orang-Orang Shalih Memperpanjang Pahala"
16.00 - 18.00

Ceramah
Menjaga Konsistensi Ibadah
Ust Dr. Muslih Abdul Karim, MA

Mewaspadai Gejala Lemah Iman
Ust Itang Rusmana, Lc
20.00 - 22.00

Qiyamul Lail
Ust Abdullah Mansyur, S.Pd.I
03.00 - 04.00

Muhasabah dan Kuliah Subuh
Ust Fadyl Usman Baharun
04.00 - 05.30

JUMAT-SABTU, 24-25 September 2010
Masjid ATTAUHID ARH UI SALEMBA
16.00 - 05.30


GRATIS
IKHWAN AKHWAT

Sebarkan ya...

Diselenggarakan oleh:

DKM Attauhid ARH UI
DATA
BURSA ARH

Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak.”(Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (V/196), Abu Dawud (no. 3641), at-Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no. 223), dan Ibnu Hibban (no. 80 al-Mawaarid),)

Kamis, 10 Juni 2010

MASJID PUSAT PENDIDIKAN UMAT

Penulis:Dr. Attabiq Luthfi, MA

"Orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. (At-Taubah: 18)

Terdapat hanya dua ayat dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang pemberdayaan masjid yang menggunakan redaksi ’يعمر ’, keduanya berbicara secara terbalik, yaitu surat At-Taubah: 17 dan surat At-Taubah: 18 yang menjadi ayat kunci pada tulisan ini. Ayat 17 berbicara tentang penafian Allah terhadap kemungkinan orang-orang musyrik melakukan pemberdayaan masjid, dan ayat ke 18 berbicara tentang mereka yang layak dan berhak melakukan itu. Sehingga ayat ke 18 ini dapat difahami dari dua sudut pandang yang berbeda tentang pelaku pemberdayaan masjid.

Pertama, yang benar-benar memberdayakan masjid dalam arti memakmurkannya hanyalah orang-orang yang beirman kepada Allah dan hari kemudian. Karena secara korelatif ayat sebelumnya berbicara tentang mereka yang tidak layak dan tidak berhak memakmurkan masjid karena kesyirikan yang melekat di dalam dada mereka.

Kedua, jaminan Allah bagi para pelaku pemberdayaan masjid bahwa mereka adalah orang-orang yang akan senantiasa dijaga keimanannya oleh Allah swt.

Pemahaman kedua terhadap ayat ini dapat ditemukan dalam sebuah hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Hakim bahwa jaminan eksistensi dan keberlangsungan iman seseorang ada pada kekerapannya menghadiri aktivitas lembaga masjid (baca: memakmurkannya). ”Jika kalian melihat seseorang kerap hadir di dalam masjid maka persaksikanlah bahwa ia seorang yang beriman”. Lantas Rasulullah membaca surat At-Taubah: 18. Maka sangat jelas seperti yang dikemukakan oleh Imam Asy-Syaukani bahwa melalui ayat ini Allah hendak menunjukkan kelompok yang berhak dan mampu melakukan pemberdayaan masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan, pendidikan dan sosial masyarakat muslim.

Kata ’masjid’ sendiri secara harfiah menurut makna ahasa Arab adalah bentuk isim makan yang berarti “tempat untuk bersujud”. Namun secara terminologis, masjid dapat dimaknai sebagai tempat khusus untuk melakukan berbagai aktivitas yang bernilai ibadah dalam arti yang luas. Salah satu bentuk aktivitas ibadah tersebut adalah aktivitas pengajaran dan pendidikan. Melalui lembaga nonformal inilah Rasulullah saw melakukan proses pembinaan moral, mental dan spiritual umat, sehingga masjid pada saat itu berfungsi strategis sebagai lembaga pendidikan yang efektif untuk menghimpun potensi ummat dari berbagai latar belakang dan unsurnya.

Terkait dengan ini, berdasarkan pembacaan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dapat dirumuskan dua klasifikasi lembaga pendidikan yang disebut secara implisit oleh Allah swt, yaitu institusi keluarga yang biasa disebut dengan istilah lembaga informal dan institusi masjid yang mewakili lembaga pendidikan nonformal. Sedangkan lembaga pendidikan formal yang berkembang sangat pesat sekarang ini dapat disarikan dari surat At-Taubah: 122 yang menyebut komunitas kecil ‘tha’ifah’ yang melakukan pengkajian ilmu tafaqquh fid din secara intens. Dapat dikatakan inilah peserta didik formal yang secara spesifik memiliki konsekuensi dan tanggung jawab ilmiyah dan moral untuk menyampaikan kembali pengajaran yang diterimanya kepada masyarakat yang tidak memenuhi syarat atau kesempatan untuk mendapatkan pendidikan formal:

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang beriman itu pergi semuanya ke medan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka untuk memperdalam pengetahuan agama supaya dapat memberi pengajaran dan peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, mudah-mudahan mereka dapat memelihara dirinya”.

Lembaga pendidikan pertama dan utama atau pendidikan informal adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan yang terbatas yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.. Pentingnya keluarga sebagai lembaga pendidikan primer diisyaratkan oleh Allah dalam firmanNya: ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (At-Tahrim: 6). Ayat lain yang mengisyaratkan bentuk pendidikan informal adalah perintah Allah kepada Nabi Muhammad saw untuk memberi peringatan (pengajaran) secara prioritas kepada kaum kerabatnya: ”Dan berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang dekat”. (Asy-Syu’ara’: 214).

Kedua ayat ini jelas memerintahkan agar objek kepeduliaan keluarga muslim adalah tentang keberagamaan keluarga mereka, tentang program yang mendekatkan mereka dengan pintu-pintu surga dan menjauhkan mereka dari daya tarik neraka. Inilah keluarga ideal dan sukses dalam kaca mata surat At-Tahrim: 6 karena memang hanya keluarga yang dibangun di atas pondasi iman yang memiliki perhatian besar terhadap aspek seperti yang tersirat dalam khitab ayat ini ”Hai orang-orang yang beriman”. Tentu, untuk menghadirkan pendidikan Islam di tengah keluarga diperlukan manajemen hak dan kewajiban yang sinergis dan saling melengkapi antara suami dan isteri atau ayah dan ibu selaku pemimpin dalam institusi pendidikan ini sehingga akan lahir keluarga-keluarga seperti yang senantiasa dipohonkan dalam doa sehari-hari orang yang beriman: ”Dan orang-orang yang senantiasa berdoa: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan yang menyenangkan hati kami. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”. (Al-Furqan: 74)

Lembaga pendidikan ketiga yang tidak kalah tingkat urgensinya adalah lembaga pendidikan nonformal yang berlangsung di dalam masjid seperti yang difirmankan Allah dalam salah satu ayat-Nya:

”Orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. (At-Taubah: 18)

Menurut Abdurrahman An-Nahlawi masjid sebagai pusat pendidikan nonformal memiliki tingkat implikasi yang cukup besar, di antaranya:

Pertama, mendidik masyarakat agar memiliki semangat pengabdian dalam seluruh aktivitasnya kepada Allah swt.

Kedua, menanamkan rasa cinta kepada ilmu pengetahuan dan menanamkan solidaritas sosial, serta menyadarkan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya sebagai insan pribadi, sosial dan warga masyarakat dan negara.

Ketiga, memberikan rasa ketentraman, kekuatan, dan kemakmuran serta mengembangkan potensi-potensi ruhiah manusia melalui pendidikan kesabaran, keikhlasan, optimisme, dan akhlak luhur lainnya. Sehingga alumni lembaga masjid memiliki kualifikasi intelektual, emosional dan spritual yang baik sebagai basis akhlak masyarakat. Untuk itu, diperlukan kreatifitas dan inovasi masyarakat untuk memberdayakan masjid sebagai lembaga pendidikan kemasyarakatan sehingga tujuan pendidikan untuk mewujudkan masyarakat yang beriman dan bertakwa dalam sebuah negeri yang tayyibatun wa rabbun ghafur dapat diraih sesuai dengan yang diharapkan.

Pada tataran aplikasi pemberdayaan masjid, memakmurkan masjid menurut Imam Ar-Razi dapat dilakukan dengan dua aktivitas secara sinergis dan terpadu, yaitu dengan memberikan kenyamanan secara fisik untuk beribadah di dalamnya dan memperbanyak aktivitas kebaikan di dalamnya. Senada dengan pemahaman ini, Abu Su’ud menegaskan bahwa aktivitas memakmurkan masjid harus difahami dalam arti yang luas. Membangun, membersihkan, merawat dan memelihara keindahan dan kebaikan masjid termasuk dalam kategori memakmurkannya. Juga melakukan aktivitas kebaikan yang dibenarkan syariat merupakan aktivitas memakmurkan masjid yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. Di sini peran setiap muslim dalam ’memberdayakan masjid’ sangat dinanti untuk kebaikan umat secara kolektif, karena demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah dalam membangun dan memfungsikan masjid secara komprehensif, integral dan menyatu dengan umat. Allahu a’lam

Sumber: http://www.dakwatuna.com/wap/index-wap2.php?p=5019

Peresmian Masjid At-Tauhid ARH UI


Masjid kampus memiliki fungsi yang sangat strategis. Selain bisa dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan keislaman mahasiswa, masjid kampus juga dapat sekaligus membentuk pribadi intelektual yang jernih. Hal tersebut dikatakan oleh Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama Prof. Dr. H. Nassarudin Umar, M.A, ketika meresmikan Masjid Attauhid Arief Rahman Hakim (ARH) di Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba Jakarta, Selasa (29/12/09). Acara peresmian masjid ini ditandai dengan penandatanganan prasasti yang dilakukan Rektor UI dan Menteri Agama RI.

Peresmian Masjid At-Tauhid ARH dihadiri oleh Syeikh Dr. Abdullah bin Muhammad Al-Muthliq selaku Menteri penasehat Dewan Kerajaan, Anggota Majelis Ulama Besar dan Anggota Komisi fatwa, Abdurrahman Dr. Abdullah bin Muhammad Amien Al-Khayat selaku Duta Besar Kerajaan Daudi Arabia untuk Indonesia, Yousif R. Alsharan selaku Duta Besar Emirat Arab untuk Indonesia, Syeikh Ibrahim bin sulaiman An-Nughaimshi selaku Atase Agama Islam Kedutaan besar Kerajaan Saudi Arabia untuk Indonesia, Syeikh Dr.Abdurrahim bin Muhammad As-Sudais selaku Imam Khatib Masjidil Haram & Guru Besar Syariah Universitas Ummul Qurra Mekkah, Syeikh Dr. Abdul Muchsin Al Khosim selaku Imam Masji Nabawi serta Duta besar Sudan, Duta Besar Qatar, Duta Besar Afghan, Duta Besar Arab Saudi dan Duta Besar Nigeria.



Syeikh Dr.Abdurrahim bin Muhammad As-Sudais & Amir Abdul Azis bin Suud bin Fahd

Pemberian Kenang-kenangan dari Rektor UI kepada Amir Abdul Azis bin Suud bin Fahd

Syeikh Dr. Abdullah bin Muhammad Al-Muthliq mengungkapkan rasa senang dan sukacitanya atas peresmian masjid tersebut. Ia berharap Islam di Indonesia akan semakin maju. Menurutnya, tidak saja di negara – negara muslim, pihaknya juga telah membantu pembangunan masjid-masjid di negara-negara Barat.

Dalam sambutannya, Rektor UI Prof.Dr.der.Soz Gumilar Rusliwa Somantri mengungkapkan, Masjid Attauhid Arief Rahman Hakim atau lebih dikenal Masjid ARH UI, awalnya diresmikan pada 16 Agustus 1969 dan sejak tahun 2004 Masjid ARH UI dikembangkan menjadi masjid yang lebih besar dan megah disesuaikan dengan estetika modern dengan tetap mempertahankan nilai sejarahnya. Pemberian nama Arief Rahman Hakim ini merupakan bentuk penghormatan kepada Arief Rahman Hakim yang tewas ketika melakukan unjuk rasa di depan Istana Kepresidenan."Suksesnya renovasi dan pengembangan Masjid ARH UI tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Penyelesaian pengembangan Masjid ARH UI di Kampus Salemba telah menelan biaya sekitar Rp 16 miliar. 13 Miliar berasal dari Atase Agama Islam Kedubes Arab Saudi, Rp1 Miliar berasal dari Pemda DKI, Rp1 Miliar dari Rektorat UI dan Rp.1 Miliar berasal dari Alumni dan jamaah" ujarnya.(Vra)

Sumber: http://www.ui.ac.id/id/news/archive/4113